Home / Artikel / Mengapa Sungai di Kota Tetap Kotor Meski Tempat Sampah Sudah Banyak?

Mengapa Sungai di Kota Tetap Kotor Meski Tempat Sampah Sudah Banyak?

Coba perhatikan sebuah kota setelah hujan turun cukup deras. Air mengalir di sepanjang jalan. Selokan mulai penuh. Beberapa daun terseret arus. Plastik tipis menempel di pinggir saluran. Bungkus makanan bergerak perlahan mengikuti aliran air, lalu menghilang ke dalam drainase. Itulah pertanyaan yang sering muncul, “mengapa sungai di kota tetap kotor?”

Beberapa saat kemudian, sebagian dari sampah itu mungkin sudah tidak terlihat. Bukan berarti hilang. Ia hanya berpindah tempat. Pada akhirnya, sebagian sampah dapat mencapai sungai.

Hal yang menarik adalah pemandangan tersebut bisa terjadi di kota yang sebenarnya sudah memiliki banyak tempat sampah. Tempat sampah tersedia di taman, jalan, pasar, sekolah, perkantoran, hingga kawasan permukiman. Namun sungai tetap dapat dipenuhi sampah.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana “masih banyak orang yang membuang sampah sembarangan”. Perilaku manusia memang berpengaruh. Tetapi sampah dapat mencapai sungai melalui banyak jalur lain: selokan, drainase, limpasan air hujan, tempat sampah yang meluap, pengangkutan yang tidak optimal, pembuangan ilegal, hingga celah dalam sistem pengelolaan sampah.

Dengan kata lain, tempat sampah hanyalah satu bagian kecil dari perjalanan panjang sebuah sampah. Untuk memahami mengapa sungai kota tetap kotor, kita perlu mengikuti perjalanan sampah tersebut dari awal.

Tempat Sampah Hanya Satu Mata Rantai

Ada sebuah anggapan yang cukup sederhana:

Kalau ingin lingkungan bersih, tambahkan tempat sampah.

Tidak ada yang salah dengan gagasan tersebut. Tempat sampah memang penting. Tanpa tempat untuk membuang sampah, masyarakat akan semakin kesulitan mengelolanya. Masalahnya, tempat sampah bukanlah akhir dari persoalan.

Bayangkan seseorang selesai membeli makanan. Bungkusnya kemudian dimasukkan ke tempat sampah. Apa yang terjadi setelah itu?

Tempat sampah harus dikosongkan. Sampah harus dikumpulkan. Kemudian harus diangkut. Setelah itu, sampah perlu masuk ke sistem pengelolaan yang sesuai, baik melalui pemilahan, penggunaan kembali, daur ulang, pengolahan, maupun pembuangan residu.

Jika salah satu tahapan tersebut tidak berjalan dengan baik, sampah berpotensi kembali ke lingkungan. Tempat sampah yang penuh, misalnya, dapat menyebabkan sampah tercecer. Sampah yang tercecer di ruang terbuka kemudian dapat terbawa angin atau air hujan. Di sinilah persoalannya menjadi lebih kompleks.

Lingkungan yang bersih bukan hanya hasil dari tersedianya tempat sampah, tetapi juga hasil dari sistem yang mampu mengelola sampah setelah dibuang.

Coba Ikuti Perjalanan Sebuah Bungkus Makanan

Agar lebih mudah memahami persoalan ini, bayangkan ada satu bungkus makanan ringan. Pagi hari, bungkus tersebut masih berada di dalam kemasan produk. Siang hari, isinya sudah dimakan. Beberapa menit kemudian, kemasannya menjadi sampah. Dari sini, ada banyak kemungkinan.

Titik pertama: dibuang dengan benar

Seseorang memasukkannya ke tempat sampah. Sekilas, masalah selesai. Tetapi sebenarnya perjalanan baru dimulai. Jika tempat sampah tersebut kemudian dikosongkan dan sampah dibawa ke sistem pengelolaan yang tepat, peluang sampah masuk ke lingkungan menjadi lebih kecil.

Namun bagaimana jika tempat sampah itu penuh? Bisa saja sampah lain ditaruh di sampingnya. Sebagian jatuh ke tanah. Lalu hujan turun.

Titik kedua: sampah berpindah ke jalan

Air hujan mengalir dari permukaan jalan menuju saluran air. Sampah yang sebelumnya berada di permukaan tanah dapat ikut terseret. Benda yang ringan lebih mudah berpindah. Plastik tipis, bungkus makanan, gelas sekali pakai, sedotan, dan material ringan lainnya dapat terbawa aliran air.

Titik ketiga: masuk ke selokan

Sampah kemudian masuk ke saluran drainase. Di tahap ini, kita mungkin sudah tidak melihat orang yang membuang sampahnya. Tidak ada seseorang yang berdiri di tepi sungai dan sengaja melempar bungkus makanan tersebut. Namun sampah tetap bergerak menuju sungai.

Titik keempat: masuk ke jaringan drainase

Saluran air di kawasan perkotaan saling terhubung dalam sistem drainase. Aliran air dari jalan, permukiman, kawasan perdagangan, dan berbagai ruang terbuka dapat bertemu pada saluran yang lebih besar. Jika tidak ada sistem yang mampu menangkap sampah di sepanjang jalur tersebut, sampah dapat terus bergerak.

Titik terakhir: sungai

Sampah akhirnya tiba di sungai. Orang yang melihatnya mungkin hanya melihat satu hal:

sungainya kotor.

Padahal, masalahnya sudah berlangsung sejak beberapa titik sebelumnya. Inilah mengapa membersihkan sungai saja tidak selalu membuat persoalan selesai. Jika jalur yang membawa sampah menuju sungai tetap terbuka, sampah baru akan terus datang.

7 Jalur yang Membuat Sampah Masuk ke Sungai Kota

Sampah dapat mencapai sungai melalui berbagai jalur. Tidak semuanya terlihat jelas.

1. Sampah dibuang langsung ke sungai

Ini adalah jalur yang paling mudah dipahami. Seseorang membuang sampah langsung ke sungai karena menganggap air akan membawanya pergi. Padahal, sampah tidak benar-benar menghilang. Ia hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Sampah yang mengapung dapat bergerak mengikuti arus. Material tertentu dapat tersangkut di tepian atau vegetasi. Sebagian lainnya dapat tenggelam dan menjadi bagian dari endapan. Masalahnya bukan hanya pemandangan yang buruk. Sampah juga dapat mengganggu organisme air dan mengubah kondisi habitat sungai.

2. Sampah masuk melalui selokan

Banyak orang menganggap selokan sebagai tempat “menghilangkan” sesuatu yang tidak ingin dilihat. Padahal, saluran air bukan tempat pembuangan sampah. Apa yang masuk ke selokan berpotensi mengikuti perjalanan air menuju saluran yang lebih besar dan akhirnya mencapai sungai.

Karena itu, kebiasaan membuang sampah ke selokan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan membuang sampah ke sungai. Hanya saja, akibatnya tidak selalu terlihat saat itu juga.

3. Sampah terbawa air hujan

Hujan dapat menjadi kendaraan bagi sampah. Ketika air bergerak di atas permukaan jalan, trotoar, halaman, dan area terbuka, material ringan yang berada di jalurnya dapat ikut terseret.

Inilah salah satu alasan mengapa setelah hujan deras, sampah terkadang terlihat berkumpul di saluran air. Air tidak memilih mana benda yang seharusnya ikut bergerak dan mana yang tidak. Jika sampah berada di jalur aliran, ia dapat terbawa.

4. Tempat sampah meluap

Tempat sampah yang tersedia tetapi tidak segera dikosongkan juga dapat menjadi sumber masalah. Sampah yang menumpuk terlalu tinggi dapat jatuh ke sekitarnya. Jika lokasi tersebut terbuka, angin dan hujan dapat membantu menyebarkannya.

Ironisnya, sebuah tempat yang dibuat untuk mengendalikan sampah justru dapat menjadi titik keluarnya sampah ke lingkungan jika pengelolaannya tidak berjalan baik. Jadi, pertanyaannya bukan hanya:

“Apakah ada tempat sampah?”

Tetapi juga:

“Apakah tempat sampah tersebut dikelola dengan baik?”

5. Sistem pengumpulan sampah tidak menjangkau semua kawasan

Tidak semua kawasan perkotaan memiliki kondisi yang sama. Ada lingkungan dengan layanan pengumpulan sampah yang relatif teratur. Ada pula kawasan yang menghadapi keterbatasan akses, fasilitas, atau frekuensi pengangkutan. Ketika sampah tidak memiliki jalur pengelolaan yang jelas, masyarakat dapat mencari jalan keluar sendiri.

Dalam kondisi tertentu, sampah bisa dibakar, ditimbun, dibuang ke lahan kosong, atau masuk ke saluran air. Karena itu, persoalan sampah tidak dapat dilepaskan dari kualitas layanan pengelolaannya.

6. Pembuangan sampah secara ilegal

Ada pula sampah yang memang sengaja dibuang di tempat yang tidak semestinya. Lahan kosong, pinggir jalan, bantaran sungai, dan saluran air dapat menjadi sasaran ketika pengawasan lemah atau masyarakat terbiasa menganggap lokasi tersebut sebagai tempat pembuangan.

Masalah ini tidak cukup diselesaikan dengan menambah tempat sampah. Diperlukan kombinasi antara akses pengelolaan sampah, edukasi, pengawasan, desain ruang, dan penegakan aturan.

7. Aktivitas ekonomi dan kawasan padat

Pasar, pusat kuliner, kawasan perdagangan, terminal, permukiman padat, dan ruang publik menghasilkan aktivitas yang tinggi. Semakin banyak aktivitas, semakin besar pula potensi timbulan sampah.

Jika pengelolaan tidak sebanding dengan aktivitas yang terjadi, sampah dapat tercecer dan masuk ke sistem drainase. Artinya, solusi di kawasan seperti ini mungkin tidak sama dengan solusi untuk taman atau permukiman yang lebih sepi. Setiap sumber sampah memiliki karakter dan tantangannya sendiri.

Masalahnya Bukan Hanya “Orang yang Buang Sampah Sembarangan”

Mudah sekali menunjuk seseorang ketika melihat sungai penuh sampah. Ada orang yang memang membuang sampah sembarangan. Itu fakta yang tidak perlu ditutupi. Namun jika kita berhenti pada kesimpulan tersebut, kita kehilangan kesempatan untuk memahami persoalan secara lebih lengkap.

Bayangkan sebuah lingkungan memiliki tempat sampah yang jumlahnya cukup. Tetapi pengangkutannya terlambat. Tempat sampah penuh. Sampah meluber. Hujan turun. Sampah masuk ke drainase. Drainase terhubung dengan sungai.

Dalam situasi tersebut, apakah persoalannya semata-mata karena masyarakat tidak memiliki kesadaran? Tidak.

Ada masalah pada sistem yang ikut berperan. Sebaliknya, sistem yang baik juga akan sulit berhasil jika masyarakat terus membuang sampah sembarangan. Artinya, perilaku dan sistem bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya saling memengaruhi.

Kita membutuhkan masyarakat yang bertanggung jawab sekaligus sistem pengelolaan sampah yang mampu bekerja dengan baik.

Mengapa Menambah Tempat Sampah Saja Tidak Cukup?

Menambah tempat sampah adalah salah satu langkah yang masuk akal. Tetapi ia bukan jawaban untuk seluruh persoalan. Coba lihat beberapa situasi berikut.

MasalahMengapa tempat sampah saja tidak cukup?Yang dibutuhkan
Tempat sampah cepat penuhSampah tetap dapat meluberPengangkutan teratur
Sampah masuk selokanSumber masalah berada di jalur airPencegahan dan pengelolaan drainase
Pembuangan ilegalOrang tetap dapat memilih lokasi lainPengawasan dan penegakan
Sampah tidak terpilahSemua sampah bercampurPemilahan dan pengolahan
Sampah dari hujanSampah sudah berada di ruang terbukaPengendalian sumber dan jalur limpasan
Sampah sulit didaur ulangTempat sampah tidak mengubah karakter materialSistem pengolahan yang sesuai

Karena itu, jumlah tempat sampah bukan satu-satunya indikator keberhasilan pengelolaan sampah. Yang jauh lebih penting adalah apa yang terjadi setelah sampah dibuang.

Sungai Kotor Adalah Gejala, Bukan Sekadar Masalah di Sungai

Ada sebuah cara pandang yang bisa membantu kita memahami persoalan ini. Sungai kotor adalah gejala.

Sumber masalahnya bisa berada jauh dari sungai. Sampah mungkin berasal dari rumah. Atau dari pasar. Mungkin dari jalan. Atau dari tempat sampah yang meluap. Mungkin juga dari kawasan yang tidak memiliki pengelolaan sampah memadai.

Kemudian sampah tersebut berpindah melalui drainase dan akhirnya berkumpul di sungai. Karena itu, jika kita hanya membersihkan sungai tanpa memperbaiki sumber sampah, hasilnya bisa bersifat sementara. Hari ini sungai dibersihkan. Besok sampah baru datang. Lusa datang lagi.

Bukan karena kegiatan membersihkan sungai tidak berguna, tetapi karena sumber masalahnya belum ditutup. Untuk menjaga sungai dalam jangka panjang, kita perlu memutus perjalanan sampah sebelum mencapai air.

Apakah Membersihkan Sungai Percuma?

Tidak. Membersihkan sungai tetap penting. Sampah yang sudah berada di sungai perlu ditangani untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan, mengurangi risiko penyumbatan pada titik tertentu, dan memulihkan kondisi kawasan. Masalahnya muncul ketika pembersihan sungai dianggap sebagai satu-satunya solusi.

Ibarat rumah yang terus kemasukan air, kita tentu perlu mengepel lantainya. Tetapi jika air terus masuk dari atap yang bocor, mengepel berkali-kali tidak menyelesaikan penyebabnya. Hal yang sama berlaku pada sampah sungai.

Membersihkan sungai adalah tindakan penting. Mencegah sampah masuk ke sungai adalah pekerjaan yang menentukan keberlanjutan hasilnya. Karena itu, keduanya perlu berjalan bersama.

Kapan pembersihan sungai diperlukan?

Pembersihan diperlukan ketika sampah sudah menumpuk dan menimbulkan risiko terhadap lingkungan maupun masyarakat. Namun setelah sampah diangkat, pertanyaan berikutnya harus muncul:

Dari mana sampah ini datang?

Pertanyaan tersebut jauh lebih penting untuk mencegah masalah yang sama berulang.

Apa yang Sebenarnya Dibutuhkan Agar Sungai Kota Lebih Bersih?

Tidak ada satu tombol yang bisa membuat sungai tiba-tiba bersih. Solusinya harus bekerja dari beberapa arah sekaligus.

1. Kurangi sampah sejak dari sumber

Sampah yang tidak pernah dihasilkan tentu tidak akan berakhir di sungai. Mengurangi penggunaan barang sekali pakai, memilih produk dengan kemasan yang lebih sederhana, menggunakan kembali barang yang masih layak, dan mengurangi pemborosan merupakan bagian dari upaya mengurangi beban sistem pengelolaan sampah. Semakin sedikit sampah yang harus dikelola, semakin kecil pula peluang terjadinya kebocoran.

2. Perbaiki sistem pengumpulan dan pengangkutan

Sampah yang sudah dibuang harus memiliki jalur berikutnya. Tempat sampah yang penuh bukan sekadar masalah kebersihan visual. Itu adalah tanda bahwa ada bagian dari sistem yang perlu diperhatikan. Pengumpulan yang konsisten membantu mencegah sampah keluar kembali ke lingkungan.

3. Kelola drainase sebagai bagian dari pengendalian sampah

Drainase bukan hanya urusan air. Di kawasan perkotaan, drainase juga dapat menjadi jalur perpindahan material yang berada di permukaan. Karena itu, pengendalian sampah di saluran air menjadi bagian penting dari upaya melindungi sungai.

4. Perkuat pemilahan dan pengolahan

Tidak semua sampah harus berakhir di tempat pembuangan akhir. Sebagian material dapat digunakan kembali atau didaur ulang. Sampah organik dapat dikelola dengan metode yang sesuai. Semakin banyak material yang dapat dikelola dengan benar, semakin kecil tekanan terhadap sistem pembuangan akhir.

5. Perbaiki perilaku sekaligus lingkungan

Kita sering meminta masyarakat mengubah perilaku. Namun lingkungan juga dapat dirancang agar perilaku baik lebih mudah dilakukan. Tempat sampah yang mudah dijangkau, sistem pemilahan yang jelas, pengangkutan yang teratur, ruang publik yang terawat, serta informasi yang mudah dipahami dapat membantu membentuk kebiasaan.

Perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan tempat mereka hidup.

Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat?

Persoalan sistem memang membutuhkan peran pemerintah, pengelola kawasan, pelaku usaha, dan berbagai pihak lainnya. Tetapi masyarakat tetap memiliki ruang untuk bertindak. Dan tindakannya tidak harus selalu berupa kegiatan besar.

Jangan membuang sampah ke selokan

Ini terdengar sederhana, tetapi dampaknya penting. Sampah yang masuk ke selokan tidak otomatis hilang. Ia hanya memasuki jalur yang mungkin berakhir di sungai.

Kurangi sampah yang sulit dikelola

Mengurangi barang sekali pakai merupakan salah satu cara mengurangi tekanan pada sistem. Bukan berarti semua orang harus langsung menjalani gaya hidup tanpa sampah. Perubahan kecil yang konsisten tetap memiliki nilai, seperti Daur Ulang Sampah Plastik.

Pisahkan sampah sesuai sistem yang tersedia

Pemilahan akan lebih bermanfaat jika diikuti oleh sistem pengolahan yang benar. Karena itu, kenali bagaimana sampah di lingkungan Anda dikumpulkan dan dikelola.

Jangan abaikan sampah di sekitar saluran air

Jika melihat sampah menumpuk di sekitar drainase, jangan menganggapnya sebagai persoalan kecil. Satu bungkus mungkin terlihat sepele. Tetapi ribuan benda kecil yang bergerak bersama air dapat menjadi masalah besar.

Dukung upaya pemantauan lingkungan

Kegiatan komunitas, pemantauan sungai, pelaporan titik pembuangan ilegal, dan kegiatan bersih sungai dapat membantu memperlihatkan kondisi nyata di lapangan.

Yang paling penting adalah memastikan kegiatan tersebut tidak berhenti pada pengangkatan sampah. Cari tahu pula mengapa sampah tersebut bisa sampai di sana.

Bagaimana Kota Bisa Mengetahui Dari Mana Sampah Sungai Berasal?

Membersihkan sungai akan jauh lebih efektif jika kita tahu sumber sampahnya. Caranya dapat dimulai dengan pengamatan sederhana.

Apa jenis sampah yang paling banyak ditemukan?

Apakah sebagian besar berupa kemasan makanan?

Apakah banyak sampah rumah tangga?

Lalu apakah sampah terkumpul di titik tertentu?

Apakah jumlahnya meningkat setelah hujan?

Apakah ada saluran drainase tertentu yang membawa banyak sampah?

Pertanyaan semacam ini dapat membantu memetakan sumber dan jalur sampah. Dalam pengelolaan lingkungan, kita tidak cukup hanya mengetahui “berapa banyak sampah?” Kita juga perlu mengetahui:

“Sampah apa?”

“Dari mana?”

“Melalui jalur mana?”

“Kapan paling banyak masuk?”

Dan yang tidak kalah penting:

“Intervensi apa yang paling mungkin mencegahnya?”

Pendekatan seperti ini membuat penanganan sampah menjadi lebih terarah.

Kalau Tempat Sampah Bukan Satu-Satunya Solusi, Lalu Apa Indikator Kota yang Berhasil?

Kita sering melihat keberadaan tempat sampah sebagai tanda bahwa sebuah kawasan sudah memiliki pengelolaan sampah yang baik. Padahal, ukuran keberhasilan seharusnya lebih luas.

Misalnya:

  • Apakah sampah dikumpulkan secara konsisten?
  • Apakah tempat sampah sering meluap?
  • Apakah sampah dipilah?
  • Apakah material yang dapat dimanfaatkan kembali benar-benar dikelola?
  • Apakah terdapat banyak titik pembuangan ilegal?
  • Apakah saluran air bebas dari sampah?
  • Apakah jumlah sampah yang masuk sungai menurun?
  • Apakah kondisi sungai membaik dari waktu ke waktu?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut memberikan gambaran yang lebih utuh. Sebuah kota bisa memiliki ribuan tempat sampah.

Tetapi jika sampah tetap berserakan, pengangkutan tidak teratur, pemilahan tidak berjalan, dan sampah terus masuk ke sungai, maka masih ada bagian penting dari sistem yang perlu diperbaiki.

Banyaknya tempat sampah bukan ukuran tunggal kebersihan sebuah kota.

Ringkasannya: Mengapa Sungai Tetap Kotor?

Jika pertanyaannya adalah:

“Mengapa sungai di kota tetap kotor meski tempat sampah sudah banyak?”

Jawabannya adalah karena sampah dapat masuk ke sungai melalui banyak jalur dan persoalannya tidak berhenti pada ketersediaan tempat sampah.

PertanyaanJawaban
Apakah tempat sampah penting?Ya
Apakah tempat sampah saja cukup?Tidak
Apakah semua sampah sungai dibuang langsung ke sungai?Tidak
Bisakah hujan membawa sampah ke sungai?Ya
Apakah drainase berperan?Ya
Apakah pengangkutan sampah berpengaruh?Ya
Apakah membersihkan sungai saja cukup?Tidak
Apa yang diperlukan?Pencegahan dari sumber, sistem pengelolaan yang baik, pengendalian drainase, dan perubahan perilaku

Jadi, sungai yang kotor sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai masalah di dalam sungai.

FAQ Mengapa Sungai di Kota Tetap Kotor

Mengapa sungai di kota tetap kotor meski banyak tempat sampah?

Karena keberadaan tempat sampah hanya satu bagian dari sistem pengelolaan sampah. Sampah masih dapat masuk ke sungai melalui pembuangan langsung, selokan, drainase, limpasan air hujan, tempat sampah yang meluap, pembuangan ilegal, atau sistem pengumpulan dan pengangkutan yang belum optimal.

Apakah semua sampah di sungai berasal dari orang yang membuang sampah langsung ke sungai?

Tidak. Sebagian sampah memang dapat dibuang langsung ke sungai, tetapi sebagian lainnya dapat mencapai sungai melalui jalan, selokan, drainase, dan aliran air hujan. Karena itu, melihat sampah di sungai tidak selalu berarti sumbernya berada tepat di tepi sungai.

Bagaimana sampah dari jalan bisa masuk ke sungai?

Sampah yang berada di permukaan jalan dapat terbawa air hujan menuju selokan dan jaringan drainase. Jika tidak tertahan atau diambil dalam perjalanan, sampah tersebut dapat terus bergerak mengikuti aliran air hingga mencapai sungai.

Apakah hujan dapat membawa sampah ke sungai?

Ya. Air hujan yang mengalir di permukaan perkotaan dapat membawa material ringan seperti plastik, bungkus makanan, daun, dan berbagai sampah lainnya menuju saluran drainase. Karena itu, pengelolaan sampah di ruang terbuka juga penting untuk mencegah sampah masuk ke sistem perairan.

Mengapa selokan berperan dalam pencemaran sungai?

Selokan dan drainase dapat menjadi jalur yang menghubungkan lingkungan perkotaan dengan badan air. Jika sampah masuk ke saluran tersebut, aliran air dapat membawanya menuju sungai. Itulah sebabnya membuang sampah ke selokan pada dasarnya hanya memindahkan masalah.

Apakah menambah tempat sampah dapat membuat sungai lebih bersih?

Menambah tempat sampah dapat membantu, tetapi tidak cukup jika tidak diikuti pengumpulan, pengangkutan, pemilahan, dan pengolahan yang baik. Pencegahan sampah masuk ke drainase dan perubahan perilaku juga diperlukan agar jumlah sampah yang mencapai sungai benar-benar berkurang.

Apakah membersihkan sungai dapat menyelesaikan masalah sampah?

Membersihkan sungai penting untuk mengurangi sampah yang sudah berada di dalamnya, tetapi tidak otomatis menghentikan sampah baru. Jika sumber dan jalur sampah menuju sungai tidak diperbaiki, sampah dapat kembali menumpuk setelah kegiatan pembersihan selesai.

Bagaimana cara mencegah sampah masuk ke sungai?

Pencegahan dapat dilakukan dengan mengurangi sampah dari sumber, membuang dan memilah sampah dengan benar, memastikan pengumpulan berjalan baik, menjaga saluran air tetap bebas sampah, mengendalikan titik pembuangan ilegal, serta meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai hubungan antara sampah di darat dan kondisi sungai.

Apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk menjaga sungai kota?

Masyarakat dapat memulai dari hal sederhana seperti tidak membuang sampah ke sungai atau selokan, mengurangi sampah sekali pakai, memilah sampah sesuai sistem yang tersedia, menjaga lingkungan sekitar saluran air, serta ikut melaporkan atau menangani titik pembuangan sampah ilegal.

Sungai Tidak Pernah Menjadi Kotor Sendirian

Ketika melihat sungai penuh sampah, kita mungkin spontan bertanya:

“Siapa yang membuang semua ini?”

Pertanyaan tersebut penting. Tetapi ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting:

“Dari mana sampah ini datang?”

Perbedaannya mungkin terdengar kecil, tetapi cara kita bertanya akan menentukan cara kita mencari solusi. Jika kita hanya mencari pelaku, kita mungkin akan membersihkan satu titik. Jika kita mencari sumber dan jalurnya, kita bisa menemukan masalah yang lebih besar.

Satu bungkus makanan mungkin berasal dari sebuah rumah. Kemudian berpindah ke jalan. Dari jalan masuk ke selokan. Kemudian dari selokan masuk ke drainase. Dari drainase terbawa aliran air. Dan akhirnya tiba di sungai.

Pada titik terakhir itu, kita menyebutnya sampah sungai. Padahal perjalanan sampah tersebut dimulai jauh sebelumnya.

Itulah mengapa sungai yang bersih tidak cukup dibangun dengan menambah tempat sampah atau mengadakan kegiatan bersih-bersih sesekali. Kita perlu memperbaiki perjalanan sampah sejak awal.

Mulai dari mengurangi jumlahnya, mengelolanya dengan benar, memastikan sistem pengumpulan bekerja, menjaga saluran air, hingga mencegah sampah keluar kembali ke lingkungan.

Sebab pada akhirnya, sungai hanyalah tempat terakhir yang memperlihatkan masalah yang sebenarnya dimulai jauh dari sana. Dan jika kita benar-benar ingin sungai kota menjadi lebih bersih, mungkin pertanyaan yang paling tepat bukan lagi:

“Mengapa orang masih membuang sampah ke sungai?”

Melainkan:

“Di titik mana kita membiarkan sampah sampai ke sungai?”

Dari pertanyaan kedua itulah, solusi yang lebih masuk akal bisa dimulai.